Makalah Akhir Antropologi Sosial

Antropologi Sosial

KEBUDAYAAN ANAK JALANAN

(Anak jalanan di lingkungan kampus)

 

Oleh :

                           Maria Magdalena Bagariang        I34110002

                           Nerissa Arviana                              I34110013

                           Dwi Setiyaningsih                           I34110112

              

 

Dosen :

Winati Wigna

 

 

 


 

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas dalam mata kuliah Antropologi Sosial tepat pada waktu yang telah ditentukan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.

Penulisan makalah berjudul “PERUBAHAN DAN INOVASI (Usaha Kecil Menengah : Toko Tawazun)” ini berisi tentang hasil pengamatan lapang kami kepada anak-anak jalanan yang berada di lingkar kampus IPB Dramaga tentang perilaku, kebiasaan, dan pola kehidupan mereka selama hidup di jalan.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, sangat diperlukan kritik dan saran guna kebaikan dan kesempurnaan makalah ini. Terimakasih penulis sampaikan kepada ibu Winati Wigna selaku dosen. Terimakasih juga penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat membawa manfaat bagi siapapun yang membaca dan dapat memenuhi kriteria yang baik dalam penilaian tugas dalam mata kuliah Pengantar Manajemen.

Bogor, Desember 2012

 

 

Tim Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………… 2

DAFTAR ISI……………………………………………………………………..  3

PENDAHULUAN……………………………………………………………….. 4

PEMBAHASAN ………………………………………………………………… 5

PENUTUP………………………………………………………………………… 7

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………… 8

LAMPIRAN ……………………………………………………………………… 9

 

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang

Di era globalisasi seperti sekarang ini, pendidikan merupakan suatu hal yang penting dan utama dalam kehidupan. Pendidikan bukan lagi menjadi barang mewah bagi sebagian orang. Namun tetap saja masih ada sebagian orang kurang beruntung yang masih belum bisa merasakan bangku pendidikan.

Anak-anak adalah anugerah terindah dalam kehidupan keluarga. Kasih sayang, perhatian, perlindungan, pendidikan, pengarahan, dan pemenuhan kebutuhan seorang anak merupakan tanggung jawab dari orang dewasa. Kebutuhan seorang anak biasanya diberikan secara penuh dari orang tua mereka, karena orang tua pada umumnya berfikir anak-anak masih lemah dalam melakukan semua tanggung jawab tersebut secara mandiri.  Aktifitas anak selalu berada dalam perlindungan orang tua. Tetapi banyak pula seorang anak yang harus memilih perjalanan hidupnya untuk berjuang memenuhi segala kebutuhan hidupnya sendiri dan bahkan tidak jarang dari mereka yang malah di tuntut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan menanggung tugas berat orang dewasa.

Tidak setiap anak memiliki keberuntungan yang sama untuk dikasihi dan dipenuhi kebutuhannya oleh kedua orang tua mereka, salah satunya adalah anak jalanan. Begitu banyak keberadaan anak jalanan di kota-kota besar seperti Bogor. Mereka adalah bagian dari panorama kehidupan kota, salah satunya kota pelajar. Kita semua sering meihat mereka di tepi jalan, di kolong jembatan, di dekat lampu merah, di terminal bus, dan mungkin yang paling sering adalah di dalam kendaraan umum.

Pada dasarnya anak jalanan adalah anak-anak berusia 6 sampai 18 tahun yang turun ke jalan untuk bekerja. Segala pekerjaan bisa dilakukan oleh anak jalanan asalkan menghasilkan uang untuk makan, pekerjaan yang biasa mereka lakukan seperti mengamen, mengemis, menyemir sepatu, menjadi kuli panggul, dan menjadi pemulung.

 

1.2              Rumusan Masalah

  1. Mengapa orang tua dari anak-anak yang turun ke jalanan lebih mendukung anak mereka untuk turun ke jalan dibandingkan untuk mengenyam pendidikan?
  2. Bagaimanakah peran orangtua tersebut dalam mendidik anak-anaknya sehingga anaknya lebih memilih turun ke jalanan dari pada menuntut ilmu di sekolah?
  3. Bagaimanakah pribadi anak jalanan tersebut sehingga merka lebih memilih menjadi anak jalanan?
  4. Mengapa masih banyak anak-anak yang memilih untuk menjadi anak jalanan padahal mereka hidup di kota terpelajar (Bogor).

TINJAUAN PUSTAKA

Anak-anak adalah generasi penerus yang akan menjadi kekuatan bangsa Indonesia di masa depan. Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya remaja. Dengan kata lain, secara ideal perkembangan remaja akan optimal apabila mereka bersama keluarganya. Tentu saja keluarga yang dimaksud adalah keluarga yang harmonis, sehingga remaja memperoleh berbagai jenis kebutuhan, seperti kebutuhan fisik-organis, sosial maupun psiko-sosial. Jika kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi secara layak, akan ada kecenderungan anak-anak berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Potensi inilah yang menyebabkan banyak bermunculan anak-anak jalan di kota besar pada umumnya.

Anak-anak jalanan merupakan salah satu masalah sosial, selain mengganggu ketertiban kota, mereka tidak seharusnya berada di jalan. Mereka semestinya dapat hidup layak seperti anak-anak pada umumnya. UUD 1945 telah mengatur bahwa, fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Permasalahan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai warga negara Indonesia untuk Indonesia yang lebih baik, adil dan makmur.

Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia merupakan persoalan sosial yang komplek. Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak bermasa depan jelas, dan keberadaan mereka tidak jarang menjadi “masalah” bagi banyak pihak, keluarga, masyarakat dan negara. Namun, perhatian terhadap nasib anak jalanan tampaknya belum begitu besar dan solutif. Padahal mereka adalah saudara kita. Mereka adalah amanah Allah yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh-kembang menjadi manusia dewasa yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan cerah.

Menurut Departemen Sosial RI : anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya. Menurut UNICEF : anak jalanan merupakan anak-anak berumur di bawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat terdekatnya, larut dalam kehidupan yang berpindah-pindah di jalan raya (H.A )

Menurut Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (1999;22-24) anak jalanan dibedakan menjadi 4 kelompok :

  • Anak-anak yang tidak berhubungan lagi dengan orangtuanya (children of the street). Mereka tinggal 24 jam dijalanan dan menggunakan semua fasilitas jalanan sebagai ruang hidupnya. Hubungan dengan keluarga sudah terputus. Kelompok anak ini disebabkan oleh faktor sosial psikologis keluarga. Mereka mengalami kekerasan, penolakan, penyiksaan dan perceraian orang tua. Umumnya mereka tidak mau kembali ke rumah, kehidupan jalanan dan solidaritas sesama temannya telah menjadi ikatan mereka.
  • Anak-anak yang berhubungan tidak teratur dengan orang tua. Mereka adalah anak yang bekerja di jalanan (children on the street ). Mereka seringkali diidentikan sebagai pekerja migran kota yang pulang tidak teratur kepada orang tuanya di kampung. Pada umumnya mereka bekerja dari pagi hingga sore hari seperti menyemir sepatu, pengasong, pengamen, tukang ojek payung, dan kuli panggul. Tempat tinggal mereka di lingkungan kumuh bersama dengan saudara atau teman-teman senasibnya.
  • Anak-anak yang berhubungan teratur dengan orang tuanya. Mereka tinggal dengan orang tuanya, beberapa jam di jalanan sebelum atau sesudah sekolah. Motivasi mereka ke jalan karena terbawa teman, belajar mandiri, membantu orang tua dan disuruh orang tua. Aktivitas usaha mereka yang paling menyolok adalah berjualan koran.
  • Anak-anak jalanan yang berusia di atas 16 tahun. Mereka berada di jalanan untuk mencari kerja, atau masih labil suatu pekerjaan. Umumnya mereka telah lulus SD bahkan ada yang SLTP. Mereka biasanya kaum urban yang mengikuti orang dewasa (orang tua ataupun saudaranya) ke kota. Pekerjaan mereka biasanya mencuci bus, menyemir sepatu, membawa barang belanjaan (kuli panggul), pengasong, pengamen, pengemis dan pemulung.

Seorang anak yang mempunyai cita-cita yang tidak tercapai, karena ada sebuah faktor perekonomian keluarga, sehingga mereka mencarai uang tambahan jajan dengan cara mengamen di jalan dll

PEMBAHASAN

Masa kanak-kanak adalah masa dimana anak sedang tumbuh dan berkembang. Pada masa ini, umumnya anak sedang gemar-gemarnya bermain dan belajar bersama teman-temannya. Dan pada masa ini jugalah merupakan fase terbaik bagi anak untuk mengingat dan menyerap apa yang dilihat dan dipelajarinya, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan teman sepermainan.

Pendidikan merupakan salah satu bagian yag tak terpisahkan dari kehidupan. Banyak anak yang beruntung dapat mengenyam bangku sekolah. Tapi tidak sedikit pula anak-anak yang kurang beruntung yang tidak dapat merasakan bangku sekolah. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal ini, salah satunya adalah masalah keluarga yang tak lepas dari tuntutan ekonomi yang terus menghimpit.

Sewajarnya orang tua pastilah menginginkan anaknya dapat sukses dan bahagia. Salah satu cara yang biasa dilakukan oleh para orang tua untuk mengantarkan anak-anak mereka ke gerbang kesuksesan dan kebahagiaan adalah dengan menyekolahkan mereka ke sekolah-sekolah formal. Tapi dewasa ini tidak dapat kita pungkiri tidak semua orang bisa merasakan bangku sekolah, lagi-lagi karena himpitan ekonomi.

Berbagai cara dilakukan oleh suatu keluarga untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi yang semakin menghimpit. Mulai dari ayah yang mencari pekerjaan tambahan, ibu yang turut bekerja, bahkan sampai anak pun terlibat dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.

Tidak sedikit anak-anak yang mulai turun ke jalan untuk mendapat penghasilan tambahan untuk sekolah ataupun memenuhi kehidupan sehari-hari. Ada anak-anak yang memang ingin turun ke jalan atas kemauan sendiri, tapi tidak sedikit pula ada anak-anak yang terpaksa dan dipaksa oleh orang tua mereka untuk turun ke jalan. Banyak alasan yang dikemukakan oleh para orang tua yang mendukung anak-anak mereka untuk turun ke jalan. Salah satunya adalah kebutuhan ekonomi yang mendesak dan kebutuhan akan barang-barang sehari-hari

Seorang anak yang seharusnya hanya memikirkan sekolah dan bermain, tetapi kenyataan mengharuskan mereka untuk lebih banyak menghabiskan waktu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Semua itu adalah pilihan hidup mereka sendiri, terkadang anak jalanan pun sebenarnya memiliki kemampuan dalam hal financial dan kenyataan bisa bersekolah, namun banyak akan anak-anak jalanan tersebut yang telah tergiur akan kebudayaan dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang disekelilingnya untuk lebih mementingkan mencari uang ketimbang mengenyam bangku pendidikan. Hal tersebut setara dengan penuturan seorang tukang parkir yang biasa berjaga di stasiun Bogor “sebenernya mereka sih mau mba sekolah, tapi karena udah ngeliat uang duluan dan hasilnya memuaskan ketimbang sekolah yah mereka lebih pilih buat ngamen dijalan akhirnya.” Dalam hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, dalam budaya awal (yang biasanya dapat kita alami dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari) anak-anak seharusnya tidak mau mencari uang pada usia dini, karena terkait masalah kesenangan bermain, kebebasan, dan keinginan untuk bersekolah dan bercengkrama dengan teman-teman sebayanya. Namun hal tersebut sangat bertolak belakang dengan anak-anak jalanan ini, mereka justru leih memilih jalan untuk turun ke jalan, mengamen, tidak mementingkan urusan sekolah, dan bahkan banyak dari mereka benar-benar tidak ingin mengenal angku pendidikan lagi.

Penyebab:

Hal-hal yang mendasarinya itu telah menjadi budaya anak-anak jalanan tersebut karena pengaruh yang datang dari lingkungannya (external) lebih kuat mempengaruhi anak-anak jalanan tersebut, ketimbang keinginan mereka dari dalam (internal) untuk mengenyam bangku pendidikan. Dalam hal ini percampuran dua budaya secara akulturasi juga dirasakan adanya karena, anak-anak jalanan tersebut telah terkontaminasi pemikirannya oleh budaya dan orang-orang di sekeliling lingkungannya yang lebih dominan memilih untuk mengamen pula dari pada sekolah. Keudayaan yang tercipta dari anak-anak jalanan itu pun juga terjadi secara asimilasi adanya, yang mana dalam proses pewarisan kepribadian merek sekarang yang lebih memilih akan menjadi anak jalanan, terbentuk karena keterlibatan masyarakat  dilingkungan sekitarmya secara langsung lebih sering berinterkasi dengan mereka dengan sesama anak jalanan, sehingga pemikiran mereka tidak berkembang.

Selain itu karakteristik budaya yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah hasil belajar juga mengacu pada alasan anak-anak tersebut yang mengacu pada, kebisaan mereka yang lebih memilih untuk bekerja ketimbang belajar yang bukan dari warisan biologis (keturunan), dan mereka yang sangat butuh makan atau kelaparan, tetapi juga karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan dijalanan dan lebih nyaman berada di lingkungan jalan tersebut.

Dalam hal internal biasanya juga banyak yang mendasari mereka untuk hidup dijalan karena mereka lebih suka untuk hidup bebas, bukan dikekang dan diatur perjalanan hidupnya oleh keluarga mereka. Salah satu responden kami Ade 22 tahun menyatakan bahwa “saya pun dapat terbilang sebagi anak jalanan dulunya mba, karena saya lebih pilih hidup diluar rumah, luntang-lantung pergi bebas bersama teman-teman saya, bahkan saya pernah mencicipi pula rasanya menjadi preman terminal dulunya, semua hal itu saya coba-coba mba karena saya ngga suka diem aja dirumah, ngga bebas gitu mba makanya saya lebih pilih kabur ketimbang diatur-atur.” Itulah salah satu penuturan responden kami yang lebih memilih untuk berkeliaran dijalan karena keinginannya untuk bebas, dalam hal ini dapat dilihat juga bahwa penyebab mereka untuk turun ke jalan lebih dikarenakan masalah freedom atau kebebasan dalm berekspresi, ketika mereka harus berdiam dirumah kebanyakan dari mereka pasti akan mendapat pantauan dari keluarganya, bahkan ada pula yang benar-benar diarahkan hidupnya. Oleh karena itu menjadi pengamen atau anak jalanan lah salah satu solusi yang mereka ambil agar mereka lebih bebas mengekspresikan dirinya.

Solusi:

Untuk mengatasi masalah anak-anak jalanan tersebut dan mengembalikan jalur mereka ke arah yang seharusnya, dapat kita lakukan dengan memandang keperluan mereka dari masalah internalnya terlebih dahulu, contohnya seperti pembuatan sekolah-sekolah informal yang dibuat dengan aturan-aturan dan kurikulum layaknya sekolah formal namun mereka boleh menggunakan aju beas agar mereka merasa tidak terikat.

Dalam hal ini aspek kenyamanan sangat di tonjolkan karena bila sekolah informal ini diterapkan dengan terlalu banyak aturan tentu akan memuat mereka merasa terkekang dan kenyamanan mereka akan terganggu sehingga mereka akan kembali lagi kejalan. Hal tersebut dapat dijadikan solusi nyata untuk mengatur kepribadian dan pemikiran jangka panjang anak-anak tersebut agar lebih terarah. Penerapan sistem sekolah informal ini pun dapat dilakukan dengan jadwa belajar yang hanya dilakukan hingga pukul 10.00 aja jadi setelah itu mereka dapat kembali turun kejalan untuk menghidupi keperluan mereka dan kebiasaan mereka pun tidak langsung diganti begitu saja. Namun secara berkala jam belajar disesuaikan dengan sekolah formal lainnya.

Sedangkan dalam hal eksternal atau lingkungan dan ekonomi, dapat disikapi dengan dampak dari pendirian sekolah informal itu sendiri yang tidak hanya diberlakukan secara berkala, namun lebih dilakukan secara rutin, namun pada hari libur lebih didampingi dengan cara yang berbeda seperti ikut turun ke jalan untuk ikut mereka mengamen namun tetap mengawasi mereka. Hal tersebut data dilakukan sehingga kegiatan mereka pun dapat lebih terpantau oleh pemimbingnya dan mereka tidak lagi jatuh ke tangan para pengepul.

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam menyikapi masalah anak-anak jalanan tersebut dapat dilihat bahwa kebudayaan yang telah mereka terapkan sekarang adalah budaya yang mereka dapatkan dan ciptakan dari hasil belajar mereka dari lingkungan sekitarnya. Kebudayaan yang mereka terapkan sekarang bukanlah budaya yang berasal dari pewarisan biologis (enkulturasi) tapi melainkan hasil interaksi mereka dan lingkungannya yang membuat mereka lebih termotivasi untuk menjadi anak jalanan karena terpengaruh oleh lingkungan mereka (akulturasi). Selain itu daya psikokultural mereka juga dirasakan sangat rendah, karena dilihat dari penuturan dan kenyataan di lapang bahwa mereka lebih memilih untuk berada di jalan ketimbang berada disekolah, dalam hal ini mereka tidak mementingkan tujuan jangka panjang, namun hanya jangka pendek mereka saja yang menyatakan produksi mereka akan lebih tinggi bila mereka leih memilih berada dijalan, padahal bila dipandang dari kacamata budaya yang biasa berlaku produksi seseorang dalam jangka panjang akan lebih menjajinkan bila mereka berpendidikan dan akan menjadi pribadi yang lebih baik bila berinteraksi dan berada dilingkungan yang lebih baik pula. Namun, walaupun mereka kurang berpendidikan dan hanya memikirkan keuntungan jangka pendek mereka, mereka juga mempunyai cita-cita layaknya anak biasa dan alasan yang mereka nyatakan memilih profesi-profesi tertentu dalam cita-citanya sangatlah sederhana yaitu agar bisa membantu orang lain dan dapat uang banyak.

DAFTAR PUSTAKA

[tidak ada nama]. 2012. Anak jalanan, siapa orang tua kalian?. [Internet]. [diunduh tanggal 14 Desember 2012]. Dapat diunduh di:  http://streetchilove.blogdetik.com/2012/04/19/

 

[tidak ada nama]. 2012. KPAI: Penanganan Masalah Anak harus dilakukan secara non-konvensional. [Internet]. [diunduh tanggal 14 Desember 2012]. Dapat diunduh di:  http://www.ummatonline.net/kpai-penanganan-masalah-anak-harus-dilakukan-secara-non-konvensional

Wigna Winati, Saharuddin, Sihaloho Martua, dan Virianita Ratri. 2009. Antropologi Sosial (Bahan ajaran untuk tingkat S1). Bogor [ID]: Dept Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. 63 hal.

Wigna Winati, Saharuddin, Sihaloho Martua, dan Virianita Ratri. 2009. Antropologi Sosial (Bahan ajaran bagian II). Bogor [ID]: Dept Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. 45 hal.

 

 

Penkoooom

Tugas penkoompenkooom lagiiiii

TUgas 2 Penkom

penkom blog

Cara mengetahui spesifikasi laptop kamuu

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan salah satu Taman Nasional di Indonesia yang memiliki keindahan wisata alam yang luar biasa. tidak hanya tersohor di dalam negeri bahkan masyarakat dunia pun rela berkunjung jauh-jauh agar dapat menyaksikan keindahan panorama alam yang disajikan di tempat ini.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, yang berada pada ketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut. Di laut pasir ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan dan mengancam kehidupan manusia di sekitarnya (± 3.500 jiwa).

salah satu mimpiku :)

salah satu impian terbesarku adalah menjadi salah seorang mahasiswa ipb. dan sekarang aku duduk disini, menjadi bagian dari kampus hijau ini. sekarang tinggal bagaimana aku meneruskan mimpi-mimpiku selanjutnya. semangaaaat :D

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!